Kamis, 20 September 2012

PROGRAM TINDAK LANJUT ASUHAN NIFAS DI RUMAH (PENYULUHAN MASA NIFAS IBU DI RUMAH )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu lamanya. Dalam masa nifas ini, bidan mempunyai peran dan tanggung jawab untuk mendeteksi komplikasi pada ibu untuk melihat perlu atau tidaknya rujukan, memberikan konseling kepada ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, memfasilitasi hubungan dan ikatan batin antara ibu dan bayinya, memulai dan mendorong pemberian ASI. 1.2 Rumusan masalah 1. Jadwal kunjungan rumah 2. Asuhan lanjut masa nifas di rumah 3. Penyuluhan masa nifas 1.3 Tujuan 1. Mengetahui kunjungan rumah ? 2. Mengetahui asuhan lanjut masa nifas di rumh ? 3. Mengetahui penyuluhan nifas ? BAB II PEMBAHASAN 1.1 JADWAL KUNJUNGAN RUMAH Kunjungan rumah postpartum dilakukan sebagai suatu tindakan untuk pemeriksaan postpartum lanjutan. Apa pun sumbernya, kunjungan rumah direncanakan untuk bekerjasama dengan keluarga dan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan. Pada program yang terdahulu, kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah pulang. Jarang sekali suatu kunjungan rumah ditunda sampai hari ke tiga setelah pulan kerumah. Kunjungan berikutnya direncanakan di sepanjang minggu pertama jika diperlukan. Semakin meningkatnya angka kematian ibu di Indonesia pada saat nifas (sekitar 60%) mencetuskan pembuatan program dan kebijakan teknis yang lebih baru mengenai jadwal kunjungan masa nifas. Paling sedikit empat kali dilakukan kunjungan masa nifas untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, juga untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani ,masalah-masalah yang terjadi. Kunjungan dilakukan paling sedikit 4 kali selama ibu dalam masa nifas Kegiatan yang dilakukan selama kunjungan meliputi pencegahan, pendeteksian, dan penanganan masalah yang terjadi pada masa nifa - Kunjungan ke I 1) Dilakukan pada 6-8 jam setelah ibu melahirkan 2) Cegah dan deteksi adanya perdarahan 3) Lakukan konseling untuk mencegah perdarahan 4) Lakukan hubungan antara ibu dan bayi, motivasi Inisiasi Dini serta jaga bayi dari keadaan hipoterm - Kunjungan ke II 1) Kunjungan ke dua pada ibu nifas dilakukan enam hari setelah persalinan 2) Bertujuan untuk memastikan involusi berjalan normal, tanda-tanda infeksi dan perdarahan 3) Nutrisi dan istirahat adequate 4) ASI optimal dan konseling mengenai suhan bayi - Kunjungan ke III 1) Dilakukan dua minggu setelah ibu melahirkan 2) Mengevaluasi perjalanan postpartum, kesejahteraan ibu dan bayi 3) Mengevaluasi kemajuan psikologis ibu terhadap peran baru dan pengalaman persalinan 4) Eratkan hubungan saling percaya dan konseling sesuai kebutuhan - Kunjungan ke IV 1) Kunjungan akhir pada ibu nifas, dilakukan pada minggu ke enam setelah ibu melahirkan 2) Melakukan evaluasi normalitas puerperium 3) Identifikasi kebutuhan ibu terutama mengenai kontrasepsi Jadwal kunjungan tersebut adalah sebagai berikut. Kunjungan Waktu Tujuan 1 6-8 jam setelah persalinan a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri b. M’deteksi & merawat penyebab lain p’darahan, rujuk bila perdarahan berlanjut. c. Memberikan konseling pd ibu/ salah satu anggota klg bgmn mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. d. Pemberian ASI awal. e. Memberikan supervisi pd ibu bgmn teknik melakukan hubungan antara ibu dan BBL. f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara menjaga hipotermia. 2 6 hari setelah persalinan a. Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan tidak ada bau. b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal. c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat. d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tandapenyulit. e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi sehari-hari. 3 2 minggu setelah persalinan Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan). 4 6 minggu setelah persalinan a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia alami atau bayinya. b. Memberikan konseling KB secara dini. c. Menganjurkan atau mengajak ibu membawa bayinya ke posyandu atau puskesmas untuk penimbangan dan imunisasi. 1.2 ASUHAN LANJUT MASA NIFAS DI RUMAH Prinsip pemberian asuhan lanjutan pada masa nifas di rumah meliputi: 1. Asuhan postpartum di rumah berfokus pada pengkajian, penyuluhan dan konseling. 2. Pemberian asuhan kebidanan di rumah, bidan dan keluarga dilakukan dalam suasana rileks dan kekeluargaan. 3. Perencanaan kunjungan rumah. 4. Keamanan Perencanaan kunjungan rumah meliputi: 1. Kunjungan rumah tidak lebih 24-48 jam setelah pasien pulang. 2. Memastikan keluarga sudah mengetahui rencana kunjungan rumah dan waktu kunjungan bidan telah direncanakan bersama. 3. Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan. 4. Merencanakan tujuan yang ingin dicapai dan menyusun alat serta perlengkapan yang digunakan. 5. Memikirkan cara untuk menciptakan dan mengembangkan hubungan baik dengan keluarga. 6. Melakukan tindakan yang sesuai standar pelayanan kebidanan dalam pemberian asuhan. 7. Membuat pendokumentasian hasil kunjungan. 8. Meyediakan sarana telepon untuk tindak lanjut asuhan. Keamanan pada saat kunjungan rumah meliputi: 1. Mengetahui alamat lengkap pasien dengan jelas. 2. Menggambar rute alamat pasien. 3. Memperhatikan keadaan di sekitar lingkungan rumah pasien sebelum kunjungan. 4. Memberitahu rekan kerja ketika melakukan kunjungan. 5. Membawa telepon selular sebagi alat komunikasi. 6. Membawa cukup uang. 7. Menyediakan senter (kunjungan malam hari). 8. Memakai tanda pengenal dan mengenakan pakaian yang sopan. 9. Waspada pada bahasa tubuh yang diisyaratkan dari siapa saja yang ada selama kunjungan. 10. Menunjukkan perasaan menghargai di setiap kesempatan. 11. Saat perasaan tidak aman muncul, segeralah akhiri kunjungan. Asuhan NIfas Selama 2-6 hari dan 2-6 minggu setelah kelahiran Asuhan nifas dilakukan selama 2-6 hari setelah melahirkan dan 2-6 minggu setelah melahirkan bertujuan untuk : • Memastikan bahwa ibu sedang dalam proses penyembuhan yang aman. • Memastikan bahwa bayi sudah bisa menyusu tanpa kesulitan dan bertambah berat badannya • Memastikan bahwa ikatan bayi anatara ibu dan bayi sudah terbentuk • Memprakatsai penggunaan kontrasepsi • Menganjurkan ibu membawa bayinya untuk control (ke rumah sakit/ rumah bersalin atau posyandu) Evaluasi dan asuhan pada ibu dalam masa nifas 2-6 hari dan 2-6 minggu postpartum dapat dilakukan dengan pengambilan riwayat dan pemeriksaan fisik pada ibu. Adapun komponen-komponen riwayat ibu yang perlu diketahui adalah menanyakan : • Bagaimana perasaan ibu, termasuk mood (suasana hati) dan perasaannya menjadi orang tua • Keluhan atau masalah yang dirasakan saat ini • Apakah ada keluhan saat buang air kecil atau buang air besar • Perasaan ibu tentang persalinan dan kelahiran bayinya • Atau memberi penjelasan tentang kelahiran: adakah komplikasi, laserasi, episiotomy? • Suplemen zat besi: adakah ibu makan tablet? • Pemberian ASI : apakah berhasil, atau ada kesulitan? Berikut adalah langkah-langkah pengambilan riwayat pada hari ke 2-6 dan minggu ke 2-6 postpartum, adalah : • Sambut ibu dan perkenalkan diri • Tanyakan apa yang dirasakan ibu • Tanyakan tentang keluhan dan hal yang ingin ibu ketahui Tanyakan tentang kelahiran : 1) Siapa yang memberi asuhan 2) Dimana ibu melahirkan 3) Komplikasi selama hamil, bersalin dan setelah melahirkan 4) Jenis persalinan apakah spontan, vacuum, seksio 5) Robekan atau episiotomy • Tanyakan apakah ibu mengkonsumsi zat besi • Tanyakan apakah ibu mengkonsumsi obat-obatan lain • Tanyakan apakah ibu mempunyai kartu imunisasi TT • Tanyakan tentang diet ibu: 1) Apa yang ibu makan? 2) Berapa sering ibu makan? 3) Apakah ibu mengkonsumsi suplemen? 4) Apakah ibu letih, mengantuk, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah? • Tanyakan pada ibu mengenai kelangsungan hidup ibu : 1) Kenyamanan fisik 2) Kenyamanan emosi • Tanyakan mengenai penggunaan kontrasepsi • Tanyakan mengenai tanda-tanda bahaya : 1) Kelelahan, kesulitan tidur 2) Demam 3) Nyeri atau terasa panas waktu buang air kecil 4) Sembelit, hemoroid 5) Sakit kepala terus menerus, nyeri bengkak 6) Nyeri abdomen 7) Cairan vagina yang berbau busuk 8) Payudara sangat sakit saat disentuh, pembengkakan, puting pecah-pecah 9) Kesulitan dalam menyusui 10) Kesedihan 11) Merasa kurang mampu merawat bayi 12) Bagaimana penglihatan? Pemeriksaan fisik Komponen-komponen pemeriksaan fisik pada masa nifas 2-6 hari dan 2-6 minggu yang perlu diketahui adalah :  KeSehatan/ penampilan umum ibu  Tanda-tanda vital  Payudara: kekenyalan, suhu,warna merah, nyeri puting atau pecah-pecah ujungnya  Abdomen : tinggi fundus, kekokohan, kelembutannya  Lokia : warna, banyaknya, bekuan, baunya  Perineum : edema, peradangan, jahitan, nanah  Tungkai/ betis : tanda-tanda Homan, gumpalan darah pada otot yang menyebabkan nyeri Langkah-langkah pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada hari ke 2-6 han minggu ke 2-6 postpartum, adalah sebagai berikut : • Amati penampilan umum dan emosi ibu • emeriksaa tanda-tanda vital (suhu, TD, nadi) • Jelaskan pada ibu tujuan pemeriksaan • Lakukanpemeriksaan payudara: 1. Minta ibu berbaring dengan lengan kiri diatas kepala, selanjutnya palpasi payudara kiri secara sistematis sampai aksila (ketiak), catat apakah ada massa, benjolan yang besar, pembengkakan atau abses 2. Ulangi prosedur tersebut untuk lengan kanan dan palpasi payudara kanan sampai ke aksila. • Lakukan pemeriksaan abdomen : 1. Periksa bekas luka, bila operasi seksio caesaria 2. Palpasi untuk mendeteksi ada tidaknya uterus diatas pubis 3. Palpasi untuk mendeteksi massa, kelembekan • Lakukan pemeriksaan kaki : 1. Periksa kaki 2. Adanya vena varises 3. Kemerahan pada betis Adanya edema pada tulang kering, pergelangan kaki, dan kaki (perhatikan tingkat piting edema, bila ada) • Kenakan kembali sarung tangan bersih • Bantu ibu untuk posisi litotomi. Lakukan pemeriksaan perineum dan jelaskan prosedurnya • periksa perineum untuk melihat penyembuhan-penyenbuhan dari laserasi dan penjahitan episiotomy • Perhatikan warna, konsistensi dan bau lokia • Beritahukan pada ibu tentang temuan-temuannya • Lepaskan sarung tangan dan taruh dalam cairan chlorine 0,5% • Tekuk kaki ibu. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda Homan/ nyeri betis • Cuci tangan Adapun langkah-langkah pemeriksaan fisik postpartum dengan cara lainnya dapat dilakukan sebagai berikut: a. Persiapan alat - Spigmomanometer - Stetoskop - Thermometer - Refeks hammer - Satu pasang sarung tangan - Kapas sublimat dalam tempatnya - 1 buah bengkok - 1 buah alat karet (bila perlu) b. langkah-langkah pemeriksaan fisik - Cuci tangan - Tanyakan keluhan ibu: anjurkan ibu untuk buang air kecil terlebih dahulu - Periksa tanda-tanda vital - Perhatikan keadaan umum ibu - Pemeriksaan fisik head to toe: - Daerah kepala termasuk wajah - Leher - Daerah dada: I. Auskultasi: cor-pulmonale (jantung-paru) II. Inspeksi: kebersihan, letak payudara, ada tidak pembengkakan, hiperpigmentasi, dan hipervaskularisasi, integritas kulit, putting menonjol,/ rata/ masuk III. Palpasi: ada pembengkakan, benjolan, tenderness pada payudara, ada pembengkakan atau tidak pada kelenjar limfe di aksila IV. Stimulasi ASI: periksa apakah ASI (+) dengan menekan daerah areola kea rah putting. Perhatikan jumlah dan jenis ASI - Daerah abdomen: I. inspeksi: bentuk perut(buncit/ rata), integritas kulit, strial, kebersihan II. Auskultasi: bising usus III. Perkusi: ada tidak kembung IV. Palpasi: keadaan tonus otot, uterus: tinggi fundus uterus(ukur dengan jari), posisi uterus, kontraksi, kandung kemih: kosong/ penuh - Daerah genitalia: I. Atur posisi ibu, minta ibu membuka pakaian dalam II. Gunakan sarung tangan. Lakukan vulva hygiene bila perlu dengan posisi litotomi III. Inspeksi daerah perineum: ada tidaknya edema pada vulva, kebersihannya IV. Periksa pengeluaran lokia: jenis, jumlah, konsistensi dan bau V. Validasi bentuk luka episiotomy, periksa adanya REEDA(redness, echymosis, edema, discharge, approximate) pada luka episiotomy - Bagian ekstremitas: I. Inspeksi: bentuk kaki, kebersihan, integritas kulit, ada tidak varises II. Palpasi: ada tidak edema, tanda Homan/ kelembaban betis dengan cara: ulurkan kaki, tahan lutut ibu dengan tangan kiri bian/ perawat, tangan kanan pemeriksa melakukan gerakan dorsofleksi kaki ibu, tanda Homan(+) bila terasa nyeri 1. Rapikan pakaian dan posisi ibu 2. Cuci tangan 3. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu 4. Catat semua hasil pemeriksaan 5. Lakukan penyuluhan kesehatan yang relevan dengan kondisi ibu Asuhan Nifas Berikutnya, berdasarkan rumusan kunjungan 2 dan 3: 6 hari dan 2 minggu setelah persalinan Program dan kebijakan teknis yang disampaikan pada buku acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006 menganjurkan bahwa pada kunjungan 2 dan 3 yaitu 6 hari setelah persalinan dan 2 minggu setelah persalinan petugas kesehatan melakukan hal-hal berikut ini: i. Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. ii. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal iii. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat iv. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit v. Memberikan konseling pada ibu menegenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari. suhan Nifas pada Kunjungan Terakhir Setelah Persalinan Tujuan dari kunjungan terakhir ini, pada dasarnya untuk: 1. Menanyakan pada ibu mengenai penyulit-penyulit yang ibu alami atau bayi alami 2. Memberikan konseling untuk KB secara dini serta memberikan metode yang menjadi pilihannya. 1.3 PENYULUHAN MASA NIFAS  Gizi Selama kehamilan ibu di suruh untuk makan lebih banyak dan meningkatkan mutu makanan yang dimakan oleh karena janin yang terus bertumbuh dan karena semua perubahan yang terjadi didalm tubuhnya. Kini setelah ibu melahirkan masih terus harus memberikan perhatian kepada gizinya. Ada dua alas an untuk ini : 1) Tubuh ibu sedang dalam penyembuhan dan sedang menyesuaikan diri ke keadaan tidk hamil. 2) Jika ibu menyusui bayinya, perlu memproduksi air susu yang cukup untuk menyehatkan bayinya. Jika ibu menyusui bayinya, ibu akan perlu terus mengonsumsi makanan seperti ketika ibu masih hamil oleh karena itu ibu akan memerlukan gizi dan kalori tambahan untuk menghasilkan air sesunguhnya lebih berat dalam keadaan stress akibat gizi dibanding masa kehamilan. Cobalah makan 5-7 kali sehari, dan pastikan makanan yang dimakan beraneka ragam. Sementara member ASI, ibu akan perlu meminum cairan yang lebih banyak dan itu sehendaknya berupaya untuk meminum segelas air setiap kali memberi ASI.juga ibu harus ingat bahwa makanan dan minuman yang ibu konsumsi akan mempengaruhi bayi ibu oleh karena dia akan mendapatkan dari sekian persen yang dari ibu konsumsi. Kafein dan nikotin adalah sangat penting untuk dihindari. Ingat bukan hanya kopi yang mengandung kafein banyak tetapi soda, teh dan coklat juga mengandung kafein didalamnya. Bidan akan memeriksa untuk melihat apakah ibu sudah mendapatkan dosis mebendazole (vermox) yang cukup untuk cacing. Jika ibu belum memakanya selama 6 bulan terakhir, maka bidan akan membuat resep obat untuk ibu.  Suplemen zat besi / vitamin A Nutrisi, tambahan kalori yang dibutuhkan oleh bufas yaitu 500 kalori/hari, diet berimbang untuk mendapatkan sumber tenaga, protein mineral, vitamin yang cukup,minum sediktnya 3 liter/hari pil zat besi sedikitnya 40 hari pasca salin, minum kapsul vitamin A (200.000 unit), hindari makanan yang mengandung kafein/nikotin.  Kebersihan diri / bayi 1) Perawatan perineum Sewaktu proses kelahiran, vagina dan vulva akan menjadi melebar dan mungkin juga telah menggalami cedera. Anda akan melihat bagian genital anda akan sedikit memerah, bengkak, lecet, munkin juga terluka. Ini semua adalah normal kecuali jika terjadi rasa panas. Perawatan perineum - Saat mandi - Setelah buang air kecil - Setlah buang air besar  Istirahat / tidur Banyak wanita merasa heran betapa letihnya mereka, baik secara emosional maupun secara fisik selama bulan –bulan pertama setelah melahirkan.sesui dengan tanda-tanda yang ditunjukantubuh untuk menggenai perasaan letih atatu energy yang sudah menipis. Tidurlah cepat, coba juga tidur atatu istirahat siang pada saat bayi tertidur . ibu tidk bisa menggendalikan atau kapan memprediksi kapan bayi akan bangun. Tertidur, menaggis ataupun terjaga. Istirahat adalah sangat penting bagi ibu oleh karena ibu sedang dalam proses pemulihan. a. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan b. Sarankan ibu untuk melakukan kembali kegiatan rumah tangga secara bertahap, tidur siang atau segera istirahat ketika bayi tidur. c. Kurang istirahat memengaruhi ibu dalam beberapa hal uterus dan memperbanyak perdarahan, memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri)  Pemberian ASI Jika ibu melihat payudara ibu sudah membesar, ada beberapa hal yang ibu bisa lakukan untuk meringankan pembekakan dan rasa nyeri. 1. Kenakan kehangatan ke payudara ibu, hal ini bisa berupa kain atau handuk yang dicuci dan dihangatkan, atau air mandi yang hangat, dan dengancara merendam payudara di dalam iar hangat. 2. Jika punting susu ibu juga bengkak, secara manual perlahan iar susu ibu sebelum member ASI. 3. Jika bayi ibu sudah berhenti menyusu sedangkan payudara ibu masih terasa penuh, maka ibu perlu menggosongkan payudara ibu secara manual (perah dengan tangan ) 4. Gunakan BH penopang yang baik. Pastikan tidak ada daerah atau bagian dari BH tersebut yang bisa menyebabkan pembekakan .  Latihan / senam nifas a. Diskusikan pentingnya mengembalikan fungsi otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan otot perutnya menjadi kuat, sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. b. Jelaskan bahwa latihan tertentu selama beberapa menit setiap hari sangat membantu. c. Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot bokong dan pinggul, tahan sampai 5 hitungan. Relaksasi otot dan ulangi latihan sebanyak 5 kali. d. Mulai mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.  Hubungan seks dan keluarga berencana - Hubungan seksual a. Secara fisik, aman untuk memulai hubungan suami-istri begitu darah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah berhenti dan ibu tidak merasakan ketidaknyamanan, inilah saat yang aman untuk memulai melakukan hubungan suami-istri kapan saja ibu siap. b. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu. Misalnya, setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan mulainya hubungan seksual bergantung pada pasangan yang persangkutan. - Keluarga berencana c. Idealnya, pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengjarkan kepada mereka cara mencegah kehamilan yang tidak di inginkan. d. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur atau ovulasi sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat digunakan sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini adalah sebesar 2% terjadi kehamilan. e. Terkait dengan metode KB, hal berikut sebaiknya dijelaskan terlebih dahulu kepada ibu. 1. Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya 2. Kelebihan atau keuntungan 3. Kekurangan 4. Efek samping 5. Bagaimana menggunakan metode ini 6. Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pascapersalinan yang menyusui f. Jika seorang ibu atau pasangan telah memilih metode KB tertentu, sebaiknya untuk bertemu dengannya lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada masalah bagi pasangan dan apakah metode tersebut bekerja dengan baik.  Tanda – tanda bahaya Tanda-tanda bahaya yang perlu diperhatikan pada masa nifas adalah: 1. Demam tinggi hingga melebihi 38°C 2. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba betambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam setengah jam), disertai gumpalan darah yang besar-besar dan berbau busuk. 3. Nyeri perut hebat/ rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung, serta ulu hati. 4. Sakit kepala parah/ terus menerus dan pandangan nanar/ masalah penglihatan 5. Pembengkakan pada wajah, jari-jari atau tangan 6. Rasa sakit, merah atau bengkak dibagian betis atau kaki 7. Payudara membengkak, kemerahan, lunak disertai demam 8. Putting payudara berdarah atau merekah, sehingga sulit untuk menyusui 9. Tubuh lemas dan terasa seperti mau pingsan, merasa sangat letih atau nafas terengah-engah 10. Kehilangan nafsu makan dalam waktu lama 11. Tidak bisa buang air besar selama tiga hari atau rasa sakit waktu buang air kecil 12. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh bayinya atau diri-sendiri BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Bidan di komunitas dapat memberikan asuhan keida selama masa nifas melalui kunjungan rumah, yang dapat dilakukan pada hari ke tiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu ibu dalam proses pemulihan ibu dan memperhatikan kondisi bayi terutama penanganan tali pusat atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan mengenai masalah kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB. 3.2 Saran Agar bisa lebih untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam asuhan kunjungan rumah. Sehingga ibu dan bayi dapat selamat dan sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar